The BLuez

Islam (Ilmu Matematika Alam Semesta Menurut Al-Qur’an)

Bag. 10 Shalat

Shalat dalam pengertian bahasa adalah doa, dan doa, menurut Nabi, seperti diriwayatkan oleh Turmudzi, adalah inti ibadah. Dalam al-Qur’an, perintah shalat (melaksanakan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam) selalu didahului oleh kata aqim atau aqimu. Kata aqima biasa diterjemahkan “mendirikan” . Terjemahan ini sebenarnya kurang tepat. Menurut al-Qurthubi dalam tafsirnya, aqimu terambil dari kata qama yang berarti “berdiri”. Tetapi kata itu lebih tepat jika diartikan “bersinambung dan sempurna”. Mak­nanya, melaksanakan dengan baik, khusyu’ dan bersinambung sesuai dengan syarat-syaratnya. Sedangkan kata shatat sendiri mempunyai tiga makna. Pertama, berarti curahan rahmat bila pelakunya adalah Allah. Kedua, berarti permohonan ampunan bila pelakunya adalah para malaikat. Ketiga, berarti doa bila pelakunya adalah makhluk, seperti manusia.

Shalat disebutkan, dengan berbagai macam derivasi (kata turunan)-nya, sebanyak 99 kali dalam al-Qur’an. Ini mengingat­kan kita pada banyaknya asmaul husna atau nama-nama indah Tuhan. Kata shalnt sendiri terulang sebanyak 67 kali, suatu bi­langan prima, dengan indeks ke-19.

Shalat telah lama diperkenalkan sejak zaman nabi-nabi sebelum Muhammad saw dengan cara masing-masing. Dalam al-Qur’an tercatat, pertama kali permintaan untuk “mendirikan shalat” yaitu ketika Nabi Ibrahim as berdoa. la tidak meminta kekayaan dan kesehatan, tetapi sesuatu yang lain.

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku”. (Ibrahim 14 :40).

Dalam al-Qur’an, konfirmasi kewajiban shalat lima kali sehari tercatat seperti dalam surat-surat berikut: subuh (an-Nur [24]: 58); subuh, zhuhur dan isya’ (al-Isra’ 17 : 78); ashar (al­Baqarah 2 : 238); maghrib (Hud 11 : 114); isya’ (an-Nur 24 : 58). Sedangkan kewajiban shalat Jum’at bagi orang-orang ber­iman dicatat dalam Surat al-Jumu’ah ayat 9.

Kodetifikasi Bilangan Prima dalam Shalat

Konfirmasi struktur bilangan prima dalam shalat diketahui melalui berbagai cara dan metode yang tidak lepas dari struktur utama al-Qur’an yang diketahui sebelumnya:

Pertama :

Angka 5 (kewajiban shalat dalam satu hari) dan 17 (jumlah rakaat) adalah bilangan prima. Angka 17 adalah bilangan prima kembar, pasangan bilangan 19.

Kedua:

Digit tiap rakaat sembahyang merupakan cerminan kodeti­fikasi angka 19, dengan jumlah tetap 17, dimulai dari awal yaitu subuh.

24434 = 19 x 7286, di mana: 2 + 4 + 4 + 3 + 4 = 1 + 2 + 8 + 6 = 17

Kita berpikir, barangkali satu-satunya, yakni mendapatkan satu deretan bilangan terdiri dari 5 angka yang jumlahnya merupakan bilangan prima kembar (17), dan hasilnya pun merupakan kelipatan dari pasangannya (19).

Shalat adalah komunikasi langsung dan privat dari manu­sia dan jin kepada Rabbi, “berkesinambungani” atau aqimu, clan dengan cara yang benar.

Dalam bahasa kriptogram Frank Drake: shalat ditunjukkan dalam bentuk kode 24434 bits informasi, hasil dari produk bilangan prima kembar 19 dengan koefisien 1286. Cara pertama, informasi disusun dalam 1286 baris; dengan tiap baris memuat 19 karakter. Cara kedua lebih rumit, berbeda de­ngan pesan Arecibo, informasi shalat merupakan produk 3 bilangan prima, yaitu 19, 2, dan 643 (prima kembar). Dengan demikian,1286 baris informasi bisa di-enkripsi Lagi dengan 643 sub-baris; tiap sub-baris memuat 2 bits, kode biner “1” dan “0”. Tetapi bentuk seperti ini belum terba-yangkan; kripto dalam 3 dimensi (x, y dan z). Bentuk komunikasi di atas adalah bentuk komunikasi dasar terting­gi di alam semesta, yang dikodekan dalam bilangan prima kembar dan kode biner. Informasi ditransmisikan 5 kali se­hari, dalam bentuk segmen yang “berkesinambungan” dan dibaca dari kanan ke kiri.

Ketiga :

Kata shalat yang ke-19 dari 99 kali penyebutan, diletakkan dalam urutan surat dan ayat yang ke-17. Surat al-Maidah ayat 103, menyebutkan 3 kata shalat, untuk yang ke-18,19, dan 20.

TABEL 10.1

SURAT DAN AYAT YANG MENYEBUTKAN

KATA SHALAT, SAMPAI URUTAN KE-17

SURAT DAN AYAT YANG MENYEBUTKAN  KATA SHALAT, SAMPAI URUTAN KE-17

(Klik Gambar Untuk Memperbesar)

TABEL 10.2

KODETIFIKASI 17 AYAT, DI MANA 

KATA ALLAH BERTEMU DENGAN KATA SHALAT

KODETIFIKASI 17 AYAT, DI MANA  KATA ALLAH BERTEMU DENGAN KATA SHALAT

(Klik Gambar Untuk Memperbesar)

Keempat :

Kodetifikasi juga ditunjukkan dengan bentuk 17 ayat per­temuan kata Allah dengan kata shalat dalam al-Qur’an.3 Dalam 17 ayat tersebut terdapat 19 kata shalat.

Kelima :

Kata shalat ke-19 dari urutan belakang; di surat 2 ayat 83 berhubungan dengan struktur kalimat basmallah, dan struk­tur surat-surat fawatih. Ayat tersebut “kebetulan” terdiri dari 29 kata. Enkripsi terlihat bila nomor surat, ayat, dan banyaknya kata dalam ayat dijumlahkan:

2 + 83 + 29 = 114 atau (19 x 6)

Muhammad saw kembali dari perjalanan malam, Isra’ Mi’raj, dengan petunjuk Ilahi yang tegas tentang kewajiban shalat:17 rakaat sehari. Kewajiban ini diketahui oleh kaum Mus­lim dari generasi ke generasi. Barangkali yang tidak diketahui adalah bahwa bilangan 17 ini “dikodekan” dalam nomor Surat al-Isra’, yaitu nomor 17.

Keterangan Terkait :
1. Baca tentang arti shalat: M. Quraish Shihab, Tafsir AI-Qur'art AI-Karim: Tafsir atas Surat-surat Penrlek Berdasarkan Urutan Wahyu, Pustaka Hidayah, hal. 122.
2. Hasil studi kelompok Fakir 60 Amerika Serikat, lihat http:// www.fakir60.tripod.com, diterima 10 Desember 2003.
3. Baca lebih lanjut hasil studi kelompok Fakir 60 atau lihat zveb site: http:// fakir60.tripod. com/salat.htm, diterima 28 Desember 2003.

“…Tamat…”

Terimakasih Semoga Bermanfaat.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.